....Baitul Wakaf....

Ibadah Abadi Dengan Pahala Tanpa Henti

Abdul Cholik, Lc., MA (Dewan Syariah)

Sudah pasti umur manusia terbatas, kesempatannya terbatas, begitu pula potensi tenaga dan hartanya juga terbatas. Di tengah kepastian akan segala keterbatasan itu  manusia yang menyadari profesi utamanya sebagai hamba Allah yang membutuhkan  modal pahala dalam jumlah tak terbatas untuk menggapai ridha rabbnya, tentu perlu menempuh formula cerdas yang dapat memenuhi keperluan tersebut. Untuk itu, seorang mukmin penting dalam memanaj ibadah dengan memperhatikan prioritas di antara sekian peluang ibadah. Dalam hal ini, seorang ulama haraki abad ini yaitu Syekh Yusuf al-Qardhawi menyampaikan kesimpulannya berdasar pada dalil-dalil yang mu’tamad (dapat dipegangi) baik al-Qur’an maupun sunnah. Prioritas yang harus diperhatikan oleh orang yang hendak beribadah dengan amal shalih itu adalah :

a.            Amal yang rutin lebih utama dari pada yang insidental.

Kesimpulan ini berdasar pada riwayat Aisyah r.a di mana Nabi bersabda:

سَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الجَنَّةَ، وَأَنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Bersedang-sedanglah dan berupayalah. Ketahuilah bahwa tak seorangpun di anatara kalian masuk surge murni karena amalnya. Sesunguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin walaupun sedikit “.(HR.Bukhari dan Muslim)

Amalan itu tidak hanya terkait dengan amal jismiyah berupa sholat, dzikir, baca al-Qur’an dan sebagainya, tetapi termasuk di dalamnya adalah amal sosial mengajar dengan ikhlas, membantu dengan tenaga dan sebagainya. Begitu pula amal maaliyah berupa zakat maupun shadaqah.

b.            Amal yang berdampak luas lebih utama daripada yang bersifat terbatas.

Kata lainnya, keutamaan sebuah amal juga ditimbang dan diukur dari segi keluasan dampaknya. Semakin luas dampak manfaat sebuah amal, maka akan semakin utama dan lebih pantas mendapat prioritas untuk dilakukan oleh seorang mukmin. Sebagai perbandingan –contoh dari al-Qardhawi- adalah dua amalan antara haji dan jihad. Tidak dapat disangkal, bahwa jihad lebih utama dari pada haji, sebab manfaat haji hanya terbatas pada pelaku, sementara manfaat jihad menyebar kepada seluruh ummat, berupa penyelamatan mereka dari ancaman musuh atau membebaskan sekian banyak manusia dari tirani thaghut yang mengekang mereka dari mendapatkan pencerahan jiwa berupa dakwah yang haq.

Penguat atas pengutamaan jihad ini adalah firman Allah s.w.t:

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

” Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang dzalim. (QS.al-Tawbah:19)

Dengan alasan ini pulalah Rasulullah s.a.w menegaskan keutamaan orang yang beilmu atas orang yang berkonsentrasi untuk beribadah mahdhah berupa sholat, puasa, dzikir dan sebagainya. Sebab, dengan berbekal ilmu seseorang dapat mengajarkan kepada banyak orang tanpa batas dan mempengaruhinya untuk bertindak lebih baik. Sementara ibadah-ibadah mahdhah di atas tidak mempunyai daya pengaruh yang menular kepada pihak lain, apalagi dalam jumlah besar.

c.             Amal yang lebih tahan lama / permanen lebih utama dari pada amal yang tidak bertahan/temporer.

Bila pada poin di atas keutamaan diperhitungkan dari keluasan jangkauan walaupun pada satu waktu, sebagai bandingannya adalah pertimbangan kepanjangan keberlangsungan waktu. Termasuk dalam hal ini adalah apa yang ditunjukkan Rasulullah s.a.w dengan sabdanya:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ.

“Jika seorang manusia mati, maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal:sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak shalih yang mendoakannya”.(HR.Muslim)

Inilah yang dikatakan sebagai investasi abadi. Mendistribusikan harta (infaq) untuk wakaf adalah salah satu bentuk pengabadian itu. Bahkan, melalui wakaf keterjaminan itu lebih pasti secara syar’i. Sebab, wakaf berarti mengekang harta pokok dan mensedekahkan manfaatnya. Karena itulah secara hukum pada wakaf tidak dapat dijual dan digantikan.

Investasi amal dalam bentuk seperti ini tentu sangat penting untuk dipertimbangkan. Dan sebisa mungkin, jangan sampai seorang mukmin meninggal tanpa meninggalkan amal wakaf baik banyak maupun sedikit, sendiri maupun bersama-sama dan secara langsung dalam bentuk benda maupun tunai untuk dibendakan. Tentu akan lebih lagi, jika wakaf itu yang potensial memenuhi dua kriteria prioritas amal di atas. Semakin permanen dan punya dampak yang lebih luas.

Nabi menguatkan kemuliaan ibadadah ini dengan bersabda:

مَنِ احْتَبَسَ فَرَساً فِي سَبِيلِ الله، إِيمَاناً بِالله، وَتَصْدِيقاً بِوَعْدِهِ، فَإِنَّ شِبَعَهُ وَرِيَّهُ وَرَوْثَهُ وَبَوْلَهُ فِي مِيزَانِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Barang siapa mewakafkan kuda di jalan Allah karena motivasi iman dan yakin terhadap janjinya, maka makan yang mengenyangkannya, air yang melepas dahaganya, kotorannya dan kencingnya menjadi tambahan timbangan pahalanya di hari kiamat”( HR. al-Bulhari, no:2853)

Betapa luar biasa penghargaan Allah atas ibadah ini, tidak sekedar hal yang berhubungan dengan fungsi utama kuda untuk mengangkut dan berlari, bahkan pahala itu terhitung dari limbah kuda berupa kencing dan kotorannya.

Oleh sebab itu, Nabi memberi contoh untuk wakaf secara khusus yang hanya berlaku bagi beliau yaitu seluruh harta peninggalannnya. Beliau memberi pesan:

لاَ يَقْتَسِمُ وَرَثَتِي دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا مَا تَرَكْتُ بَعْدَ نَفَقَةِ نِسَائِي، وَمَئُونَةِ عَامِلِي فَهُوَ صَدَقَةٌ

“ Ahli warisku tidak berhak untuk membagi dinar maupun dirham. Apa yang aku tinggalkan setelah dipotong untuk nafkah istri-istriku dan upah pekerjaku, semuanya adalah sedekah” (HR.al-Bukhari dan Muslim)

Tidak heran jika para sahabat Nabi berupaya keras untuk dapat termasuk pelaku ibadah wakaf ini. Banyak cerita prilaku sahabat yang luar biasa meraih kemuliannya.

Diantara cerita popular wakaf sahabat adalah wakafnya Umar ibn Khattab r.a. seratus bagian ghanimah di Khaibar, Abu Thalhah yang mewakafkah kebun Bairuha’ yang sangat strategis, Utsman yang mewakafkan sumur Ruumah dan Khalid bin Walid yang mewakafkan baju besinya. Hingga Jabir Ibn Abdillah. Ia berkata:

مَا أَعْلَمُ أَحَدًا كَانَ لَهُ مَالٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأْنْصَارِ إِلاَّ حَبَسَ مَالاً مِنْ صَدَقَةٍ مُؤَبَّدَةٍ لاَ تُشْتَرَى أَبَدًا وَلاَ تُوهَبُ وَلاَ تُورثُ

“Aku tidak mengenal seorangpun di antara muhajirin dan anshar yang emiliki harta, kecuali mereka mengekang (wakaf) suatu harta sedekah abadi. Selamanya, harta sedekah itu tidak dapat dibeli, dihibahkan dan diwariskan”( Al-Khashshaf, Ahkam al-Awqaf,6)

Semoga Allah menambahkan barakah pada harta kita semua dan mampu meniru Nabi serta para sahabat untuk meraih kemuliaan wakaf.

Terbit Majalah Hidayatullah edisi November 2019

Share on Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Assalamualaikum Wr. Wb.

Klik di bawah untuk mulai chat

CS 1

Admin

Online

Admin

Assalamu'alaikum, Ada yang bisa kami bantu? 00.00