Teladan “Gerakan Wakaf” Generasi Sahabat

Teladan “Gerakan Wakaf” Generasi Sahabat

 

Teladan hidup mengagumkan sepanjang sejarah kehidupan dapat kita peroleh dari kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Diantara sepenggal kemuliaan yang dicontoh dari kejujuran dan kasih sayang Rasulullah SAW adalah tentang wakaf.

Wakaf merupakan instrument penting dalam islam yang bertujuan memberdayakan ekonomi kaum muslimin. Berbeda dengan zakat yang sifatnya wajib dan menjadi rukun islam, wakaf bersifat sunnah muakkadah (sunnah yang dianjurkan).

Wakaf zaman Islam telah dimulai bersamaan dengan masa kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah dengan pembangunan masjid Quba, kemudian disusul dengan pembangunan masjid nabawi yang dahulu tanahnya adalah milik dua anak yatim Bani Najjar. Tanah tersebut semula akan dihibahkan kepada Rasulullah namun beliau menolak , mungkin dengan pertimbangan tanah tersebut milik anak yatim yang mesti dilindungi dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membelinya dengan harga 10 dinar emas. Dengan semikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid.

Wakaf juga diteladankan oleh para sahabat, diantaranya sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu yang mewakafkan sebidang tanah di khaibar yang hasil pengelolaan tanahnya diberikan kepada fakir miskin, kerabat, hamba sahaya, sabilillah dan ibnu sabil. Tak ketinggalan Abu Thalhah juga mewakafkan kebun kesayangannya, kebun “bairaha”. Usman mewakafkan hartanya di Khaibar, Muadz bin jabal mewakafkan tanahnya yang populer  dengan sebutan “Dar Al-Anshar” dan seterusnya tradisi wakaf dilakukan oleh Abu Bakar Siddik, Abdurahman Bin Auf,  Anas bin Malik, Abdulllah bin Umar, Zubair bin Awwan hingga Aisyah Istri Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diantara kisah yang populer dalam tradisi wakaf Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Utsman Bin Affan yang juga mewakafkan sumur yang airnya digunakan untuk memberi minum kaum muslimin. Sebelumnya pemiliki sumur yang seorang yahudi mempersulit dalam masalah harga, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk membeli sumur sunah bagi para sahabat. “Barang siapa yang membeli sumur Raumah, Allah akan ampuni semua dosa dosanya” ( HR An Nasai).

Karena itu, Ustman membeli sumur dan diwakafkan bagi kepentingan kaum muslimin. Sedangkan air merupakan sangat penting untuk menggerakan kehidupan dan aktifitas kota madinah saat itu.

Praktek wakaf ini membuat orang eropa dan barat terkesima. Mereka mengakui islam adalah penggagas pertama wakaf dan hal ini secara terang terangan dinyatakan dalam ensiklopedi Amerika, bahkan sebelumnya tidak dikenal tidak dikenal diperundang undangan manapan di barat maupun eropa.

Peran wakaf begitu besar dalam membangun peradaban. Diantara pengelolaan yang terkenal hingga saat ini pasca tabiut tabiin adalah Al Azhar Kairo. Institusi pendidikan yang telah lebih dari 1000 tahun ini dan telah melahirkan ribuan ulama konsisten mengembangkan pendidikan yang semua sarana dan prasarananya berasala dari wakaf.

Dari tradisi gerakan wakaf para sahabat kita bisa meneladani bagaimana mereka berlomba lomba dalam kebaikan (berfastabiqul khairat) dan mewakafkan sebagian harta yang dicintainya. Para sahabat adalah teladan terbaik dan menginspirasi bagaimana menjadi pribadi bermanfaat dan menjadi solusi bagi umat. Karena itulah Rasulullah memberi kabar gembira pada insan insan mulia ini  dalam hadist yang mashur bahwa ada 10 sahabat yang dijamin masuk surga.

Demikianlah para sahabat mempraktekan wakaf sebagai Life Of Style (gaya hidup), mari mengambil teladan hidup dari kemuliaan perilaku para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita bisa meraih kejayaan umat dan membutuhkan gerakan, maka para sahabat berebut ambil peran dengan berwakaf.

Share on Whatsapp

Post Comment